Blogger : GURU SD ABAD 21

Selasa, 29 November 2016

Gambar dan Video Pembelajaran Tematik Terpadu

Gambar suasana di dalam kelas saat proses Pembelajaran Tematik Terpadu Kelas IV



Video Pembelajaran Tematik Integratif kelas IV


Video Pembelajaran Tematik Terpadu kelas IV 
Tema Selalu Berhemat Energi



Tugas kelompok bagi siswa :

Lihat serta amati  video pembelajaran diatas dengan seksama  kemudian tuliskan kesimpulan dari pembelajaran tersebut

Latihan bagi siswa ditulis dalam bentuk Essay

1. Bagaimana cara kalian dalam menghemat energi ?
2. Sebutkan ada berapa lampu yang digunakan di rumah atau di sekolah kalian ?
3. Sebutkan barang barang elektronik di rumahmu yang menggunakan energi listrik ?

Placeholder Image
Add caption

PEMBELAJARAN TEMATIK DI SD


Tujuan :
  1. Memberikan pengetahuan dan wawasan tentang pembelajaran tematik.
  2. Memberikan pemahaman kepada guru tentang pembelajaran tematik yang sesuai dengan perkembangan peserta didik kelas awal Sekolah Dasar.
  3. Memberikan keterampilan kepada guru dalam menyusun perencanaan, melaksanakan dan melakukan penilaian dalam pembelajaran tematik.
  4. Memberikan wawasan, pengetahuan dan pemahaman bagi pihak terkait, sehingga diharapkan dapat memberikan dukungan terhadap kelancaran pelaksanaan pembelajaran tematiktematik
Bahan bacaan buku tematik SD :
Buku Tematik Guru dan Siswa Kelas
  1. Buku Tema 1 – Diriku
  2. Buku Tema 2 – Kegemaranku
  3. Buku Tema 3 – Kegiatanku
  4. Buku Tema 4 – Keluargaku
Buku Tematik Guru dan Siswa Kelas II
  1. Buku Tema 1 – Indahnya Kebersamaan
  2. Buku Tema 2 – Bermain di Lingkunganku
  3. Buku Tema 3 – Tugasku Sehari-hari
  4. Buku Tema 4 – Aku dan Sekolahku
Buku Tematik  Guru dan Siswa Kelas IV
  1. Buku Tema 1 – Indahnya Kebersamaan
  2. Buku Tema 2 – Selalu Berhemat Energi
  3. Buku Tema 3 – Peduli Terhadap Mahkluk Hidup
  4. Buku Tema 4 – Berbagai Pekerjaan
  5. Buku Tema 5 – Pahlawanku
Buku Tematik Guru dan Siswa Kelas V
  1. Buku Tema 1 – Benda-benda di Lingkungam Sekitar
  2. Buku Tema 2 – Peristiwa Dalam Kehidupan
  3. Buku Tema 3 – Kerukunan Dalam Masyarakat
  4. Buku Tema 4 – Sehat Itu Penting
  5. Buku Tema 5 – Bangga Sebagai Bangsa Indonesia



Senin, 28 November 2016

KONSEP DASAR PEMBELAJARAN TEMATIK

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Seiring berjalannya waktu, perkembangan dunia pendidikan mengalami perkembangan yang pesat. Untuk itu peningkatan mutu pembelajaran di sekolah perlu dilakukan. Peningkatan mutu pembelajaran tersebut akan selalu mendapatkan perbaikan-perbaikan secara berkelanjutan yang dilakukan melalui perubahan kurikulum sekolah oleh pemerintah. Perubahan kurikulum yang terjadi merupakan hal yang biasa dan merupakan suatu keniscayaan dalam rangka mengikuti perkembangan masyarakat yang begitu cepat. Pada tahun ajaran baru 2013, pemerintah dalam hal ini Kemdikbud mulai menerapkan kurikulum baru di semua jenjang pendidikan sekolah. Kurikulum 2013 tersebut pada jenjang SD/MI mendapatkan porsi perubahan yang cukup banyak. Salah satu ciri kurikulum 2013 adalah bersifat tematik integratif pada level pendidikan dasar (SD). Oleh karena itu, makalah ini akan membahas tentang konsep dasar pembelajaran tematik.

Rumusan Masalah
  1. Bagaimana konsep dasar pembelajaran tematik?
  2. Apa yang dimaksud dengan pembelajara tematik?
  3. Apa landasan pembelajaran tematik?
  4. Bagaimana prinsip pembelajaran tematik integratif?
  5. Bagaimana karakteristik pembelajaran tematik?
  6. Bagaimana rambu-rambu pembelajaran tematik?
  7. Apa kekuatan dan keterbatasan pembelajaran tematik?
Tujuan
  1. Untuk mengetahui konsep dasar pembelajaran tematik.
  2. Untuk mengetahui pengertian pembelajara tematik.
  3. Untuk mengetahui landasan pembelajaran tematik.
  4. Untuk mengetahui prinsip pembelajaran tematik integratif.
  5. Untuk mengetahui karakteristik pembelajaran tematik.
  6. Untuk mengetahui rambu-rambu pembelajaran tematik.
  7. Untuk mengetahui kekuatan dan keterbatasan pembelajaran tematik.

Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan penulis dalam penyusunan makalah ini menggunakan studi kepustakaan yang bersumber dari berbagai media buku maupun media cetak/elektronik yang sesuai dengan materi yang akan dibahas.

BAB II
PEMBAHASAN

Konsep Dasar Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada murid. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan. (Poerwadarminta, 1983).
Pembelajaran tematik merupakan salah satu model pembelajaran terpadu (integrated instruction) yang merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individu maupun kelompok aktif menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip keilmuan secara holistik, bermakna dan otentik.
Dalam bukunya, Interdisciplinary Curriculum: Design and Implementation, Jacob (1989) menjelaskan bahwa tumbuh kembangnnya minat dan kebutuhan atas kurikulum terpadu (integrative curriculum) dipicu oleh sejumlah hal berikut ini.
  1. Perkembangan pengetahuan
Perkembangan pengetahuan tumbuh sangat pesat dalam berbagai bidang. Kemajuan tersebut tidak serta merta dapat diadopsi dalam kurikulum. Akibatnya, apa yang sedang dan telah dipelajari siswa kerap basi dan usang karena telah tertinggal jauh oleh perkembangan yang terjadi.
  1. Fragmentasi jadwal pembelajaran (fragmented schedule)
Merancang dan melaksanakan pembelajaran di sekolah dibentengi oleh satuan waktu yang disebut menit. Karena waktunya sudah habis, kegiatan yang sedang berlangsung terpaksa harus diputus, dan segera berpindah pada pelajaran yang baru. Para siswa belajar dengan terpenggal-penggal dan terputus-putus tanpa mempedulikan ketuntasan dan keutuhan.
  1. Relevansi kurikulum
Kegiatan pembelajaran yang dialami anak menjadi membosankan dan tidak berguna, ketika mereka tidak mengerti untuk apa mempelajari Matematika, IPS, IPA, dan sebagainya. Pembelajaran hanya dilakukan demi pelajaran itu sendiri, atau sekedar menghadapi tes dan ujian. Padahal, ketika bangun dipagi hari atau begitu menamatkan sekolah, anak dihadapkan pada sekeranjang masalah kehidupan nyata yang memerlukan pemecahan secara baik dan dari berbagai sudut pandang. Persoalan itu pulalah yang kerap memicu perdebatan tentang apa tujuan pendidikan sekolah, apa yang harus dialami dan dipelajari anak, dan bagaimana semestinya pendidikan itu dilaksanakan. Kurikulum menjadi relevan dan bermakna ketika pelajaran-pelajaran yang harus dikuasai siswa terkait satu sama lain.
  1. Respons masyarakat terhadap fragmentasi pembelajaran
Ketika seorang caon dokter dididik menjadi dokter, ia tidak hanya diajar tentang hal-hal yang bersifat fisik, biologis, dan media, ia pun diajari pula tentang filosofi manusia, psikologi, etika, dan komunikasi yang dapat membekalinay dengan penyikapan terhadap manusia secara utuh. Spesialisasi memang penting, tetapi pendulum akan tetap bergerak dan mengarah pada keseimbangan. Karena itu pula, interdisiplin akan membantu siswa untuk dapat lebih baik dalam mengintegrasikan pengetahuan dan strategibelajarnya guna menghadapi kompleksitas dunia.

Sifat keterhubungan antar-disiplin itu pada kenyataannya melahirkan sejumlah vasiasi yang memiliki makna yang tidak persis sama (Jacob, Ed., 1989, dan Pitts, dkk., 1991), di antaranya adalah sebagai berikut:
  1. Paralel disiplin: Pembelajaran yang mengurutkan suatu pelajaran dengan pelajaran lain berkenaan dengan suatu isu atau konsep yang sama.
  2. Lintas disiplin atau crossdisclinary: Pembelajaran yang memandang suatu bidang studi dari perspektif bidang studi lain.
  3. Pluridisiplin: Pembelajaran yang menghubungkan antardua bidang studi yang berbeda dengan menggunakan sebuah tema.
  4. Multidisiplin: Pembelajaran yang bertolak dari suatu tema dengan mengusung satu bidang studi inti, dan menyertakan pula bidang studi lain. Tak ada upaya untuk menghubungkan antarbidang studi.
  5. Interdisiplin: Pembelajaran yang secara sadar menghubungkan tujuan, isi, dan kegiatan belajar dari berbagai bidang studi yang berbeda untuk menggali sebuah tema.
  6. Keterpaduan hari atau integradet-day: Program pembelajaran sehari (full-day program) yang didasarkan atas tema utama dan masalah yang muncul dari dunia anak. Penekanannnya pada suau pendekatan organik terhadap kehidupan kelas yang berfokus pada kurikulum yang digali dari pertanyaan dan minat anak.
  7. Program lengkap atau complete program: pembelajaran yang bertolak dari kurikulum yang bersumber dari kehidupan sehari-hari siswa. Ini adalah bentuk terekstrem dari interdisiplin dan program integratif yang total karena kehidupan siswa sama dengan sekolah.

Dari berbagai istilah tersebut, Jacob lebih menyukai istilah interdisiplin sebagai payung karena memandang pengetahuan dan pendekatan kurikulum yang menerapkan secara sadar metodologi dan bahasa lebih dari satu disiplin utnuk menguji relevansi dan kebermaknaan tema sentral, isu, masalah, topik, atau pengalaman.
Pada dasarnya pembelajaran terpadu dikembangkan untuk menciptakan pembelajaran yang di dalamnya siswa sendiri aktif secara mental membangun pengetahuannya yang dilandasi oleh struktur kognitif yang telah dimilikinya. Pendidik lebih berperan sebagai fasilitator dan mediator pembelajaran. Penekanan tentang belajar dan mengajar lebih berfokus pada suksesnay siswa mengorganisasi pengalaman mereka, bukan ketepatan siswa dalam melakukan replikasi atas apa yang dilakukan pendidik.
Menurut aliran progresif, anak merupakan satu kesatuan yang utuh, perkembangan emosi dan sosial sama pentingnya dengan perkembangan intelektual. Dewey mengungkapkan bahwa Education is growth, development, and life. Hal ini berarti bahwa proses pendidikan itu tidak mempunyai tujuan di luar dirinya, tetapi terdapat dalam pendidikan itu sendiri. Proses pendidikan juga bersifat kontinu dan merupakan reorganisasi, rekonstruksi, dan pengetahuan pengalaman hidup.
Pengembangan pembelajaran terpadu di sekolah dasar didasari beberapa hal, yaitu:
  • Sesuai dengan penghayatan dunia kehidupan anak yang bersifat holistik.
  • Sesuai dengan potensi pengaitan mata pelajaran di sekolah dasar sehingga mampu membuahkan penguasaan isi pembelajaran secara utuh.
  • Idealisasi pelaksanaan kurikulum yang selayaknya dikembangkan secara integratif. (Depdikbud, 1995:3).

Pengertian Pembelajaran Tematik
Konsep pembelajaran tematik merupakan pengembangan dari dua tokoh pendidikan yakni jacob (1989) dengan konsep pembelajaran interdisipliner dan fagory (1991) dengan konsep pembelajaran terpadu. Pembelajaran tematik merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik baik dalam intramata pelajaran maupun antar mata pelajaran. Dengan adanya pemaduan itu peserta didik akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara utuh sehingga pembelajaran jadi bermakna bagi peserta didik.
Bermakna artinya bahwa pada pembelajaran tematik peserta didik akan dapat memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan nyata yang menghubungkan antar konsep dalam intra maupun dalam mata pelajaran. Jika dibandingkan dengan pendekatan konvensional, pembelajaran tematik tampak lebih menekankan pada keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran sehingga peserta didik aktif terlibat dalam proses pembelajaran untuk pembutan keputusan.
BNSP (2006:35) menyatakan bahwa pengalaman belajar peserta didik menempati posisi penting dalam usaha meningkatkan kualitas lulusan. Untuk itu, pendidik dituntut mampu merancang dan melaksanakan pengalaman belajar dengan tepat. Setiap peserta didik memerlukan bekal pengetahuan dan kecakapan agar dapt hidup di masyarakat, dan bekal ini diharapkan diperoleh melalui pengalaman belajar disekolah. Oleh karena itu, pengalaman belajar di sekolah sedapat mungkin memberikan bekal bagi peserta didik dalam mencapai kecakapan untuk berkarya. Kecakapan ini disebut dengan kecakapan hidup yang cakupannya lebih luas dibandingkan dengan keterampilan.
Kurikulum 2013 SD/MI menggunakan pendekatan pembelajaran tematik integratif dari kelas I sampai kelas VI. Pembelajaran tematik integratif merupakan pendekatan pembelajaran mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran kedalam berbagi tema.
Kata tema berasal dari kata yunani tithenai, yang berati “menempatkan” atau “meletakkan” dan kemudian kata itu mengalami perkembangan sehingga kata tithenai berubah menjadi tema. Menurut arti katanya ,tema berarti “sesuatu yang telah diuraikan” atau “sesuatu yang telah ditempatkan” (Gorys keraf, 2001: 107)
Adapun pengertian luas, tema merupakan alat atau wadah untuk mengenalkan berbagai konsep kepada anak didik secara utuh. Dalam pembelajaran tema diberikan dengan maksud menyatukan isi kurikulum dalam satu kesatuan yang utuh, memperkaya perbendaharaan bahasa anak didik dan membuat pembelajaran lebih bermakna. Penggunaan tema dimaksudkan agar anak mampu mengenal berbagai konsep secara mudah dan jelas. Pembelajaran tematik merupakan suatu strategi pembelajaran yang meliibatkan beberpa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Keterpaduan pembelajaran ini dapaat dilihat dari aspek proses atau waktu, aspek kurikulum, dan aspek belajar-mengajar. Jadi pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema sebagai pemersatu materi dalam beberapa mata pelajaran sekaligus dalam satu kali pertemuan.
Pengertian pembelajaran tematik dapat dijelaskan sebagai berikut:
  1. Pembelajaran yang berangkat dari suatu tema tertentu sebagai pusat yang digunakan untuk memahami gejala-gejala, dan konsep-konsep, baik yang berasal dari bidang studi yang bersangkutan maupun dari bidang studi lainnya.
  2. Suatu pendekatan pembelajaran yang menghubungkan berbagai bidang studi yang mencerminkan dunia riil di sekeliling dan dalam rentang kemampuan dan perkembangan anak.
  3. Suatu cara untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan anak secara simultan.
  4. Menggabungkan suatu konsep dalam beberapa bidang studi yang berbeda dengan harapan anak akan belajar lebih baik dan bermakna.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema-tema tertentu. Dalam pembahasannya tema itu ditinjau dari berbagai mata pelajaran. Sebagai contoh, tema “Air” dapat ditinjau dari mata pelajaran fisika, kimia, biologi, dan matematika. Lebih luas lagi, tema itu dapat ditinjau dari bidang studi lain. Seperti IPS, bahasa, agama, dan seni. Pembelajaran tematik menyediakan keluasan dan kedalaman implementasi kurikulum, menawarkan kesempatan yang sangat banyak pada peserta didik untuk memunculkan dinamika dalam proses pembelajaran. Unit yang tematik adalah epitome dari seluruh bahasa pembelajaraan yang memfasilitasi peserta didik untuk produktif menjawab pertanyaan yang dimunculkan sendiri dan memuaskan rasa ingin tahu dengan penghayatan secara alamiah tentang dunia disekitar mereka.

Landasan Pembelajaran Tematik
Adapun landasan pembelajaran tematik mencakup:
  • Landasan filosofis
Dalam pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat yaitu:
  • Aliran Progresivisme memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreativitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa
  • Aliran konstruktivisme melihat penglaman langsung siswa (direct expreriences) sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia mengonstruksi pengetahuan melalui interaksi dengan objek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada anak, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing siswa. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus-menerus. Keaktifan siswa yang diwujudkan oleh ras ingin tahunya sangat berperan dalam perkembangan pengetahuannya.
  • Aliran humanisme melihat siswa dari segi keunikan/kekhasannya, potensinya, dan motivasi yang dimilikinya.

  • Landasan psikologis
Pembelajaran tematik terutama berkaitan dengan psikologi perkembangan pserta didik dengan psikologi belajar. Psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi/materi pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa agar agar tingkat keluasaan dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi/materi pembelajaran tematik tersebut disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus mempelajarinya.

  • Landasan yuridis
Dalam pembelajaran tematik berkaitan dengan berbagai kebijakan atau peraturan yang mendukung pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah dasar. Landasan yuridis tersebut adalah UU No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak yang menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya (pasal 9). UU No. 20 Tahun 2002 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai bakat, minat, dan kemampuannya (Bab V pasal 1-b).

Prinsip Pembelajaran Tematik Integratif
Beberapa prinsip yang berkenaan dengan pembelajaran tematik integratif sebagai berikut:
  1. Pembelajaran tematik integratif memiliki satu tema yang aktual dekat dengan dunia siswa dan ada dalam kehidupan sehari-hari. Tema ini menjadi satu pemersatu materi yang beragam dari beberapa mata pelajaran.
  2. Pembelajaran tematik integratif perlu memilih materi beberapa mata pelajaran yang mungkin saling terkait. Dengan demikian materi-materi yang di pilih dapat mengungkapkan tema secara bermakna. Mungkin terjadi pengayaan horizontal dalam bentuk contoh aplikasi yang tidak termuat dalam standart isi. Namun ingat, penyajian materi pengayaan seperti ini perlu di batasi dengan mengacu pada tujuan pembelajaran.
  3. Pembelajaran tematik integratif tidak boleh bertentangan dengan tujuan kurikulum yang berlaku tetapi sebaliknya pembelajaran tematik integratif harus mendukung pencapaian tujuan utuh kegiatan penbelajaran yang termuat dalam kurikulum.
  4. Materi pembelajaran yang dapat di padukan dalam satu tema selalu mempertimbangkan karakteristik siswa seperti minat, kemampuan, kebutuhan, dan pengetahuan awal.
  5. Materi awal yang di padukan tidak terlalu di paksakan. Artinya, materi yang tidak mungkin di padukan tidak usah di padukan.

Karakteristik Pembelajaran Tematik.
Sebagai suatu model pembelajaran di sekolah dasar. Pembelajaran tematik memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:


  • Berpusat pada siswa.
Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student centered). Hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subyek belajar, sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator,yaitu memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untukmelakukan aktifitas belajar.
  • Memberikan pengalaman langsung.
Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences). Dengan pengalaman langsung ini,siswa di hadapkan pada sesuatu yang nyata (konkret) sebagai asar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak.
  • Pemisahan mata pelajaran tidak begitu
Dalam pelajaran tematik, pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Fokus pembelajaran di arahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.
  • Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran
Pembelajaran tematik menyajikan konsep –konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian siswa mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini di perlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang di hadapi dalam kehidupan sehari – hari .
  • Bersifat fleksibel
Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) dimana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satumata pelajaran dengan mata pelajaran yang laennya.
  • Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan.
Adapun karakteristik dari pembelajarantematik ini menurut TIM Pengembang PGSD , 1997 (Hesty, 2008). Adalah:
  • Holistik,
Suatugejala atau peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran tematik di amati dan di kaji dari beberapa bidang studi sekaligus,tidak dari sudut pandang yang berkotak-kotak.
  • Bermakna,
Pengkajian suatu fenomena dari berbagai macam aspek, memungkinkan terbentuknya semacam jalinan antar schemata yang di miliki oleh siswa ,yang gilirannya nanti akan memberikan dampak kebermaknaan dari materi yang di pelajari.
  • Otentik
Pembelajaran tematik memungkinkan siswa memahami secara langsung konsep dan prinsip yang ingin di pelajari.
  • Aktif,
Pembelajaran tematik di kembangkan dengan berdasar pada pendekatan “inquiry discovery” dimana siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran ,mulai perencanaan,pelaksanaan,hingga proses evaluasi.

Rambu–rambu Pembelajaran Tematik
Adapun rambu–rambu pembelajaran tematik adalah sebagai berikut:
  1. Tidak semua mata pelajaran harus disatukan
  2. Dimungkinkan terjadi penggabungan kompetensi dasar lintas semester
  3. Kompetensi dasar yang tidak dapat di padukan, tidah harus dipadukan. Kompetensi dasar yang tidak dapat diintegrasikan dibelajarkan secara
  4. Kompetensi dasar yang tidak tercakup pada tema tertentu harus tetap diajarkan baik melalui tema lain maupun disajikan secara
  5. Kegiatan pembelajaran ditekankan pada kemampuan membaca, menullis, dan berhitung serta penanaman nilai –nilai moral.
  6. Tema-tema yang dipilih disesuaikan dengan karakteritik siswa, lingkungan, dan daerah

Prinsip –prinsip pemilihan tema sebagai berikut:
  1. Kedekatan, artinya tema hendaknya dipilih mulai dari tema yang terdekat dengan kehidupan anak kepada tema yang semakin jauh dari kehidupan
  2. Kesederhanaan, artinya tema hendaknya dipilih mulai dari tema-tema yang sederhana, ketema-tema yang lebih rumit bagi anak-anak.
  3. Kemenarikan, artinya tema hendaknya dipilih mulai dari tema-tema yang menarik minat anak kepada tema-tema yang kurang menarik minat
  4. Keinsidentalan, artinya peristiwa atau kejadian di sekitar anak (sekolah) yang terjadi pada saat pembelajaran berlangsung, hendaknya dimasukkan dalamp embelajaran walaupun tidak sesuai dengan tema yang dipilih pada hari

Kekuatan dan Keterbatasan Pembelajaran Tematik
Pembelajaran terpadu memiliki kelebihan dibandingkan pendekatan konvesional, yaitu sebagai berikut:
  1. Pengalaman dan kegiatan belajar peserta didik akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan
  2. Kegiatan yang dipilih dapat disesuaikan dengan minat dan kebutuhan peserta
  3. Seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi peserta didik sehingga hasil belajar akan dapat bertahan lebih lama.
  4. Pembelajarn terpadu menumbuh kembangkan keterampilan berfikir dan sosial peserta
  5. Pembelajarn terpadu menyajikan kegiatan yang bersifat Dengan permasalahan yang sering ditemui dalamk ehidupan/lingkungan riil peserta didik.
  6. Jika Pembelajarn terpadu di rancang bersama dapat meningkatkank erjasama antar guru bidang kajian terkait, guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik, pesertadidik/guru dengan narasumber sehingga belajar lebih menyenangkan, belajar dalam situasi nyata, dand alam konteks yang lebih
Selain itu, pembelajaran tematik memiliki kelebihan dan arti penting, yakni sebagai berikut:
  1. Menyenangkan, karena berangkat dari minat dan kebutuhan anak
  2. Memberikan pengalaman dan kegiatan belajar mengajar yang relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak
  3. Hasil belajar dapat bertahan lama karena lebih berkesan dan
  4. Menggembangkan keterampilan berpikir anak didik sesuai dengan persoalan yang dihadapi.
  5. Menumbuhkan keterampilan sosial melalui
  6. Memiliki sikap toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
  7. Menyajikan kegiatan yang bersifat nyata sesuai dengan persoalan yang dihadapi dalam lingkungan anak

Di samping kelebihan, pembelajaran terpadu memiliki keterbatasan terutama dalam pelaksanaannya, yaitu pada perancangan dan pelaksanaan evaluasi yang lebih banyak menuntut guru untuk melakukan evaluasi proses, dan tidak hanya evaluasi dampak pembelajaran langsung saja. Puskur, Balitbang Diknas mengidentifikasi beberapa aspek keterbatasan pembelajaran terpadu, yaitu sebagai berikut.
Aspek Guru.
Guru harus berwawasan luas, memiliki kreativitas tinggi, keterampilan metodologis yang handal, rasa percaya diri yang tinggi dan berani mengemas dan mengembangkan materi. Secara akademik, guru dituntut untuk terus menggali informasi ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan dan banyak membaca buku agar penguasaan bahan ajar tidak terfokus pada bidang kajian tertentu saja. Tanpa kondisi ini, pembelajaran terpadu akan sulit terwujud.
Aspek peserta
Pembelajaran terpadu menuntut kemampuan belajar peserta didik yang relative “baik”, baik dalam kemampuan akademik maupun kreativitasnya. Hal ini terjadi karena model pembelajaran terpadu menekankan padakemapuan analistis (mengurai), kemampuan asosiatif (menghubung-hubungkan), kemampuan eksplorati fdan elaborative (menemukandanmenggali). Jikakondisi ini tidak dimiliki, penerapan model pembelajaran terpadu ini sangat sulit dilaksanakan.
Aspek sarana dan sumber
Pembelajaran terpadu memerlukan bahan bacaan atau sumber informasi yang cukup banyak dan bervariasi, mungkin juga fasilitas internet. Semua ini akan menunjang, memperkaya dan mempermudah pengembangan wawasan. Jika sarana ini tidak dipenuhi, penerapan pembelajaran terpadu juga akan terhambat.
  1. Aspek
Kurikulum harusl uwes, berorientasi pada pencapaian ketuntasan pemahaman peserta didik (bukan pada pencapaian target penyampaian materi). Guru perlu diberi kewenangan dalam mengembangkan materi, metode, penilaian keberhasilan pembelajaran peserta didik.
  1. Aspek
Pembelajaran terpadu membutuhkan cara penilaian yang menyeluruh (komprehensif), yaitu menetapkan keberhasilan belajar peserta didik dari beberapa bidang kajian terkait yang dipadukan. Dalam kaitan ini, guru selain dituntut untuk menyedikan teknik dan prosedur pelaksanaan penilaian dan pengukuran yang komprehensif, juga dituntut untuk berkoordianasi dengan guru lain jika materi pembelajaran berasal dari guru yang berbeda.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Model pembelajaran tematik merupakan pendekatan pembelajaran yang menunjukan kaitan unsure-unsur konseptual baik didalam maupun antar mata pelajaran, untuk memberi peluang bagi terjadinya pembelajaran yang efektif dan untuk memberikan pengalaman yang bermakna bagi anak.
Pembelajaran tematik sebagai pendekatan baru merupakan seperangkat wawasan dan aktifitas berpikir dalam merancang butur-butir pembelajaran yang ditujukan untuk menguntai tema, topic maupun pemahaman dan ketrampilan yang diperoleh siswa sebagai pembelajaran secara utuh dan padu. Atau dengan pengertian lain pembelajaran tematik adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menghubungkan, merakit atau menghubungkan sejumlah konsep dari berbagai mata pelajaran yang beranjak dari suatu tema tertentu sebagai pusat perhatian untuk mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan siswa secara stimulan.

Saran
Menyadari bahwa kelompok kami masih jauh dari kata sempurna, selanjutnya kelompok kami akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber-sumber yang lebih banyak dan tentunya dapat dipertanggung jawabkan.

DAFTAR PUSTAKA

Majid, Abdul. 2014. Pembelajaran Tematik Terpadu. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Wati, Kurnia. 2013. Konsep Dasar Pembelajaran Tematik.http://uukurniawati.wordpress.com/2013/05/17/konsep-dasar-pembelajaran-tematik/ (online), diakses: 11 Oktober 2014.

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK (TERPADU) DAN STRATEGI PENGEMBANGANNYA

OLEH:

 Junaidi Arsyad, Ahmad Syukur, M.Toguan, Suhaimah dan Nurbaiti
  1. Pendahuluan
            Sebuah pertanyaan penting mengawali pembahasan ini adalah apakah istilah “tematik” dan “terpadu” itu sama, mengingat kita sering mendengar kedua istilah ini digunakan secara bersamaan bahkan tumpang tindih? Agar arah pembahasan ini focus dan tidak timbul kebingungan, ada baiknya kita kaji sepintas tentang kedua istilah tersebut.
            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi terbaru, tematik diartikan sebagai “ berkenaan dengan tema”; dan “tema” sendiri berarti “pokok pikiran; dasar cerita (yang dipercakapkan, dipakai sebagai dasar mengarang, mengubah sajak, dan sebagainya).”[1] Sebagai contoh, tema sandiwara ini ialah yang keji dan jahat pasti akan kalah oleh yang baik dan mulia.
            Tidak jauh berbeda dengan sumber literatur lainnya, Hendro Darmawan dkk, tematik diartikan sebagai “mengenai tema; yang pokok; mengenai lagu pokok”.[2] Sedangkan terpadu berarti “sudah padu (disatukan, dilebur menjadi satu, dan sebagainya).”[3]
            Dari uraian  tersebut, sekilas sudah tergambar bahwa istilah tematik dan terpadu, meskipun tampak beda tetapi sesungguhnya intinya sama, yaitu sama-sama berorientasi pada proses penyatuan. Kalau tematik pada hakikatnya berorientasi pada satu wujud melalui penyesuaian dengan satu tema (objek) tertentu, maka terpadu adalah membuat wujud baru yang satu dengan cara meleburkan berbagai wujud asal yang berbeda-beda.
Oleh karena itu dalam konteks implementasi kurikulum dapat dipahami bahwa pembelajaran tematik adalah salah satu model pembelajaran terpadu (integrated learning) pada jenjang taman kanak-kanak (TK/RA) atau sekolah dasar (SD/MI) untuk kelas awal (kelas 1, 2, dan 3) yang didasarkan pada tema-tema tertentu yang kontekstual dengan dunia anak.[4] Sementara itu, contoh untuk pembelajaran terpadu pada satuan pendidikan adalah pemaduan mata pelajaran IPA dan IPS di SMP atau Mts. Mata pelajaran IPA di SMP/MTs merupakan peleburan dari mata pelajaran kimia, fisika, dan biologi; sedangkan mata pelajaran IPS peleburan dari mata pelajaran geografi, ekonomi dan sosiologi.[5] Pendekatan tematik dirancang agar proses pembelajaran dari beberapa mata pelajaran yang diampu guru kelas yaitu PKn, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, dan IPS yang dipelajari peserta didik menjadi lebih bermakna. Dengan pembelajaran tematik diharapkan pembelajaran lebih berkesinambungan dan tidak berdiri sendiri. Sementara untuk ketiga mata pelajaran (Agama, Olahraga dan mulok) dibelajarkan secara mandiri oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan.
 Untuk menyatukan persepsi, dalam makalah ini akan menggunakan istilah tematik terpadu, hal ini sejalan dengan semangat kurikulum 2013 yakni kurikulum tematik integratif. Dimana pembahasannya menyangkut hakikat, tujuan, teori yang mendasari, prinsip-prinsip pengembangannya, dasar-dasar pertimbangan, jenis strategi dan metode yang relevan serta prosedur penerapannya.
  1. Hakikat Model Pembelajaran Tematik Terpadu
Pembelajaan tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa.Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan. Menurut Rusman, dengan tema diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, di antaranya:[6]
  1. Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu,
  2. Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama;
  3. Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;
  4. Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa;
  5. Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas;
  6. Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain;
  7. Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.
Selain itu, sebagai suatu model pembelajaran di sekolah dasar, pembelajaran tematik memiliki karakteristik tersendiri, yakni:[7]
  1. Berpusat pada anak.
  2. Memberikan pengalaman langsung pada anak.
  3. Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas.
  4. Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses.
  5. Bersifat fleksibel.
  6. Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat, dan kebutuhan anak.
Jadi dalam menerapkan model pembelajaran tematik terpadu ini, kita haruslah melakukannya dengan cara yang bersahabat, menyenangkan, dan bermakna bagi anak. Sedangkan dalam menanamkan konsep atau pengetahuan dan keterampilan, anak tidak harus di-drill, tetapi ia belajar melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah dipahami. Bentuk pembelajaran ini dikenal dengan pembelajaran terpadu, dan pembelajarannya sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak.
  1. Tujuan Model Pembelajaran Tematik Terpadu
Menurut Sukayati, Pembelajaran Tematik Terpadu dikembangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, dengan tujuan siswa dapat:[8]
  1. Meningkatkan pemahaman konsep yang dipelajarinya secara lebih bermakna.
  2. Mengembangkan keterampilan menemukan, mengolah, dan memanfaatkan informasi
  3. Menumbuhkembangkan sikap positif, kebiasaan baik, dan nilai-nilai luhur yang diperlukan dalam kehidupan.
  4. Menumbuhkembangkan keterampilan sosial seperti kerja sama, toleransi, komunikasi, serta menghargai pendapat orang lain.
  5. Meningkatkan gairah dalam belajar; dan
  6. Memilih kegiatan yang sesuai dengan minat dan kebutuhannya.
  1. Teori yang Mendasari Model Pembelajaran Tematik
Menurut Ahmad Fawzan Rohman, Model pembelajaran tematik terpadu (PTP) yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai integrated thematic instruction (ITI) dikembangkan mula-mula di awal tahun 1970-an. Pendekatan pembelajaran tematik integratif ini sebelumnya telah dikembangkan khusus untuk anak-anak berbakat dan bertalenta (gifted and talented), anak-anak yang cerdas, program perluasan belajar, dan peserta didik yang belajar cepat. Akhir-akhir ini Pembelajaran Tematik Terpadu (PTP) dianggap sebagai salah satu model pembelajaran yang efektif (highly effective teaching model). Keefektifan model pembelajaran tematik terpadu dapat dilihat dari kemampuannya dalam mewadahi serta menyentuh secara terpadu ranah-ranah emosi (emotional), fisik (physical), dan akademik (academic) di dalam kelas atau di lingkungan sekolah.[9]
Sementara itu, konsep pembelajaran tematik terpadu sendiri pada dasarnya telah lama dikemukakan oleh Jhon Dewey sebagai upaya mengintegrasikan perkembangan dan pertumbuhan siswa serta kemampuan pengetahuannya. Ia memberikan pengertian bahwa pembelajaran tematik terpadu adalah pendekatan untuk mengembangkan pengetahuan siswa dalam pembentukan pengetahuan berdasarkan pada interaksi dengan lingkungan dan pengalaman kehidupannya. Hal ini membantu siswa untuk belajar menghubungkan hal yang telah dan sedang dipelajarinya. Dengan kata lain, model pembelajaran tematik terpadu merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa secara individual ataupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna dan autentik.[10]
Secara kualitatif terdapat perbedaan antara model pembelajaran tematik terpadu bila dibandingkan dengan model pembelajaran lainnya, yaitu dalam hal sifatnya yang akan memandu siswa agar dapat mencapai kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher levels of thinking) atau keterampilan berpikir dengan mengoptimasi kecerdasan ganda (multiple thinking skills), sebuah proses inovatif  bagi pengembangan dimensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan.[11]
Menurut Uukurniawati,  model pembelajaran tematik ini berdasarkan dari teori Gestalt, dimana teori ini dimotori oleh para tokoh psikologi Gestalt, (termasuk teori Piaget) yang menekankan bahwa pembelajaran itu haruslah bermakna dan menekankan juga pentingnya program pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan perkembangan anak. Pembelajaran tematik merupakan suatu pendekatan yang berorientasi pada praktik pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Pembelajaran ini berangakat dari teori pembelajaran yang menolak proses latihan/hafalan (drill) sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak.[12]
Sementara itu, Pendekatan model pembelajaran tematik terpadu menekankan pada keterkaitan (linkages) dan keterhubungan  (relationship) antar berbagai disiplin. Model  Pembelajaran Tematik Terpadu itu sendiri setidaknya ada   sepuluh   macam model, yaitu:
  1.  Model Terhubung  (The Connected Model),
  2.  Model Jaring Laba-Laba (The Webbed Model),
  3.  Model   Tematik   Terpadu   (The Integrated Model),
  4.  Model Sarang (The Nested Model),
  5.  Model Penggalan (The Fragmented Model),
  6.  Model Terurut (The Sequenced Model),
  7.  Model Irisan   (The Shared Model),
  8.  Model Galur (The Threaded Model),
  9.  Model Celupan (The Immersed Model). Dan
  10. Model Jaringan Kerja (The Networked  model).
 Dalam Model Tematik Terpadu, hanya ada tiga model yang  dikembangkan atau dikenalkan di sekolah maupun lembaga pendidikan tenaga keguruan (LPTK) di Indonesia. Ketiga model tersebut adalah (1) model keterhubungan (connected), (2) model jaring laba-laba (webbed) dan (3) model kerpaduan (integrated).
Model-Model Pembelajaran Terpadu[13]
  1. Model Pembelajaran Jaring Laba-Laba ( Webbed Model)
a)    Pengertian
Pembelajaran model Webbed adalah pembelajaran yang pengembangannya dimulai dengan menentukan tema tertentu yang menjadi tema sentral bagi keterhubungan berbagai bidang studi.
b)   Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan dari model jaring laba-laba (Webbed) meliputi:
1). Penyeleksian tema sesuai dengan minat akan memotivasi anak untuk belajar
2). lebih mudah dilakukan oleh guru yang belum berpengalaman
3). Memudahkan perencanaan
4). Pendekatan tematik dapat memotivasi siswa dan,
5).  memberikan kemudahan bagi anak didik dalam melihat kegiatan-kegiatan dan ide-ide berbeda yang terkait.
Selain kelebihan yang dimiliki, model Webbed juga memiliki beberapa kekurangan antara lain:
1). Sulit dalam menyeleksi tema
2). Cenderung untuk merumuskan tema yang dangkal dan,
3). Dalam pembelajaran, guru lebih memusatkan perhatian pada kegiatan dari pada pengembangan konsep.
c). Contoh Model Jaring Laba-laba/Model Terjala (Webbed model)
Pada model pembelajaran tematik jaring laba-laba guru menyajikan pembelajaran dengan tema yang menghubungkan antar mata pelajaran. Model jaring laba-laba adalah pembelajaran yang mengintegrasikan materi pengajaran dan pengalaman belajar melalui keterpaduan tema. Tema menjadi pengikat keterkaitan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya.
1)      Tahap perencanaan
Langkah perancangan pembelajaran tematik adalah langkah-langkah yang harus dilakukan guru dalam perancangan pembelajaran yang berorientasi dalam pembelajaran tematik. Langkah persiapan pembelajaran tematik meliputi pemetaan kompetensi dasar pada tema, menentukan tema sentral, pemetaan pokok bahasan, penentuan alokasi waktu, perumusan tujuan pembelajaran, penentuan alat dan media pembelajaran, dan perencanaan evaluasi. Berikut ini adalah contoh merencanakan pembelajaran tematik model jaring laba-laba yang dimulai dari penjabaran kompetensi dasar beberapa mata pelajaran di kelas I ke dalam indikator:
• IPA
–          Mengenal bagian-bagian tubuh dan kegunaannya.
–          Menyebutkan nama bagian-bagian tubuh menceritakan kegunaan bagian bagian tubuh
–          Menyebutkan anggota gerak tubuh.
• Bahasa Indonesia
–          Menyebutkan nama bagian-bagian tubuh.
–          Menceritakan kegunaan bagian bagian tubuh.
–          Menyebutkan anggota gerak tubuh.
• Matematika 
–          Membilang banyak benda.
–          Membilang atau menghitung secara urut.
–          Menyebutkan banyak benda.
–           Membandingkan dua kumpulan benda melalui istilah lebih banyak, lebih sedikit, atau sama banyak.
• IPS
–          Mengiden-tifikasi identitas diri, keluarga, dan kerabat.
–          Menyebutkan nama lengkap dan nama panggilan.
–          Menyebutkan nama ayah, ibu, saudara dan wali.
–          Menyebutkan alamat tempat tinggal.
–          Menyebutkan anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah.
• Kewarganegaraan
–          Menjelaskan perbedaan jenis kelamin, agama dan suku bangsa.
–          Menyebutkan berdasarkan jenis kelamin anggota keluarga.
• Pendidikan Agama Islam
–          Membiasakan perilaku terpuji.
–          Membiasakan perilaku jujur.
–          Membiasakan perilaku bertanggung jawab.
Setelah menjabarkan KD ke dalam indikator guru menentukan tema sentral dan memetakan keterhubungan antar mata pelajaran dengan tema sentral. Berikut ini adalah jaring-jaring tema dengan tema sentral keluargaku. tema sentral dan memetakan keterhubungan antar mata pelajaran dengan tema sentral.
2.  Pembelajaran Terpadu Tipe Keterkaitan (Connected)
     a. Pengertian
Connected Model (keterkaitan) adalah model pengembangan kurikulum yang menggabungkan secara jelas satu topik dengan topik berikutnya, satu konsep dengan konsep lainnya, satu kemampuan dengan kemampuan lainnya, kegiatan satu hari dengan hari lainnya, dalam satu mata pelajaran.
Model pembelajaran terpadu tipe connected atau keterhubungan pada
prinsipnya mengupayakan adanya keterkaitan antara konsep, keterampilan, topik, ide,
kegiatan dalam suatu bidang studi. Model ini tidak melatih siswa untuk melihat suatu
fakta dari berbagai sudut pandang, karena dalam model ini keterkaitan materi hanya
terbatas pada satu bidang studi saja. Model ini menghubungkan beberapa materi, atau konsep yang saling berkaitan dalam satu bidang studi. Materi yang terpisah-pisah akan tetapi mempunyai kaitan, dengan sengaja dihubungkan dan dipadukan dalam sebuah topik tertentu.
Contoh pengajaran menggunakan pembelajaran terpadu tipe terhubung (connected) :
1.   Guru menghubungkan/menggabungkan konsep matematika tentang uang dengan  konsep  jual beli, untung rugi, simpan pinjam, dan bunga.
2.    Guru menghubungkan/menggabungkan konsep matematika tentang uang dengan konsep jual  beli, untung rugi, simpan pinjam, dan bunga.
3.    Guru menghubungkan konsep pecahan dengan desimal, dan pecahan dengan uang, tingkatan, pembagian, rasio, dan sebagainya.
b. Kelebihan
– Guru akan dapat melihat gambaran yang menyeluruh dan kemampuan/indikator yang digabungkan;
   dampak positif dari mengaitkan ide-ide dalam satu bidang studi adalah siswa memperoleh gambaran yang luas sebagaimana suatu bidang studi yang terfokus pada suatu aspek tertentu.
– menghubungkan ide-ide dalam suatu bidang studi sangat memungkinkan bagi siswa untuk mengkaji, mengkonseptualisasi, memperbaiki, serta mengasimilasi ide-ide secara terus menerus sehingga memudahkan untuk terjadinya proses transfer ide-ide dalam memecahkan masalah.
– Kegiatan anak lebih terarah untuk mencapai kemampuan yang tertera pada indikator;
–  Siswa memperoleh gambaran secara siswa dapat mengembangkan konsep-konsep kunci secara terus menerus, sehingga terjadilah proses internalisasi.menyeluruh tentang suatu konsep sehingga transfer pengetahuan akan sangat mudah karena konsep-konsep pokok dikembangkan terus-menerus;
–  Siswa dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas dan luas dari konsep yang dijelaskan dan juga siswa diberi kesempatan untuk melakukan pedalaman, tinjauan, memperbaiki dan mengasimilasi gagasan secara bertahap.
c. Kekurangan
– Model ini belum memberikan gambaran yang menyeluruh karena belum menggabungkan bidang-bidang pengembangan/mata pelajaran yang lain;
– Masih kelihatan terpisahnya antar bidang studi, walaupun hubungan dibuat secara eksplisit antara mata pelajaran (interdisiplin).
– Tidak mendorong guru untuk bekerja secara tim, sehingga isi dari pelajaran tetap saja terfokus tanpa merentangkan konsep-konsep serta ide-ide antar bidang studi,
– Memadukan ide-ide dalam satu bidang studi, maka usaha untuk mengembangkan keterhubungan antar bidang studi menjadi terabaikan
– Model ini kurang mendorong guru bekerja sama karena relatif mudah dilaksanakan secara mandiri;
–  Bagi guru bidang studi mungkin kurang terdorong untuk menghubungkan konsep yang terkait karena sukarnya mengatur waktu untuk merundingkannya atau karena terfokus pada keterkaitan konsep, maka pembelajaran secara global jadi terabaikan.
 d. Kapan Menggunakan Connected Model
           Model ini digunakan sebagai permulaan kurikulum terpadu. Guru merasa percaya diri mencari keterhubungan dalam mata pelajaran mereka (jika guru bidang studi). Mereka menjadi mau mengadaptasikan hubungan ide-ide dalam mata pelajaran yang menyeberang. Pembuatan keterhubungan juga diselesaikan secara kolaborasi dalam pertemuan guru (departement meeting) dalam hal ini dalam kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) yang dapat terjadi lebih famillier. Guru dapat memulai model ini sebelum memasuki keterpaduan yang lebih kompleks.
3. Pembelajaran Terpadu Model Integrated (Terpadu)
a. Pengertian
Integrated Model adalah model pengembangan kurikulum yang menggunakan pendekatan lintas bidang ilmu utama dengan mencari keterampilan, konsep dan sikap yang tumpangtindih. Dalam konteks pembelajaran TK, Integrated Model adalah model pengembangan kurikulum yang menggunakan pendekatan lintas bidang pengembangan. Model ini berusaha memberikan gambaran yang utuh pada anak tentang tujuan melakukan kegiatan-kegiatan yang terdapat dalam bidang-bidang pengembangan.
Contoh penerapan pembelajaran terpadu tipe keterpaduan adalah:
Pada awalnya guru menyeleksi konsep-konsep keterampilan dan nilai sikap yang diajarkan dalam satu semester dari beberapa mata pelajaran misalnya: matematika, IPS, IPA dan Bahasa. Selanjutnya dipilih beberapa konsep, keterampilan dan nilai sikap yang memiliki keterhubungan yang erat dan tumpang tindih di antara beberapa mata pelajaran.
b. Kelebihan
1). Guru akan dapat melihat gambaran yang menyeluruh dari kemampuan yang dikembangkan dari berbagai bidang studi/mata pelajaran;
2).  Memberikan kegiatan yang lebih terarah pada tiap bidang pengembangan untuk mencapai kemampuan yang telah ditentukan pada indikator;
3). Siswa merasa senang dengan adanya keterkaitan dan hubungan timbale balik antar berbagai disiplin ilmu;
4). Memperluas wawasan dan apresiasi guru.
c.  Kekurangan
1). Cukup sulit dilaksanakan karena membutuhkan guru yang berkemampuan tinggi dan yakin dengan konsep dan kemampuan yang akan dikembangkan di setiap bidang pengembangan;
2). Kurang efektif karena membutuhkan kerjasama dari banyak guru;
3). Sulit mencari keterkaitan antara mata pelajaran yang satu dengan yang lainnya, juga mencari keterkaitan aspek keterampilan yang terkait;
4). Dibutuhkan banyak waktu pada beberapa mata pelajaran untuk didiskusikan guna mencari keterkaitan dan mencari tema.
            Dari ketiga model tersebut dapat disimpulkan bahwa, Model keterhubungan, pada prinsipnya mengupayakan dengan sengaja adanya  keterhubungan konsep, keterampilan, topik, ide, kegiatan dalam satu bidang studi. Pada model ini, siswa tidak terlatih untuk melihat suatu fakta dari berbagai sudut pandang, karena pada model ini keterkaitan materi hanya terbatas pada satu bidang studi saja.
Model jaring laba laba (webbed) merupakan model dengan menggunakan pendekatan tematik. Karena karakterik dari model ini adalah menggunakan pendekatan tema maka dalam model ini, tema dijadikan sebagai pemersatu dari beberapa mata pelajaran. Setelah tema  ditemukan. Baru dikembangkan sub-sub temanya dengan memperhatikan kaitanya dengan mata pebelajaran yang dipadukan.
Sedangkan model keterpaduan merupakan model yang menggunakan pendekatan antar bidang studi. Diupayakan penggabungan bidang studi dengan cara menetapkan prioritas kurikuler dan menemukan keterampilan, konsep dan sikap yang tumpang tindih di dalam beberapa bidang studi. Model ini sulit di laksanakan sepenuhnya mengingat sulitnya menemukan materi dari setiap bidang studi yang benar–benar tumpang tindih dalam satu semester, dan sangat membutuhkan keterampilan guru yang cukup tinggi dalam perencanaan dan pelaksanaanya.[14]
Secara spesifik Teori-teori Belajar yang Mendukung Pembelajaran Tematik adalah:
  1. Teori belajar Konstrutivisme
Aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct experiences) sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini, pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan obyek, fenomena, pengalaman, dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada anak, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing siswa. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus menerus. Keaktifan siswa yang diwujudkan oleh rasa ingin tahunya sangat berperan dalam perkembangan pengetahuannya.
  1. Teori belajar Pieget
Menurut Ratna Dahar, Piaget menyatakan bahwa, setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif). Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Kedua proses tersebut jika berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan cara seperti itu secara bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut, maka perilaku belajar anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam dirinya dan lingkungannya. Kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang proses belajar terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya.[15]
Piaget juga menyatakan, usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Pada rentang usia tersebut anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut:
(1).Mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak, (2) Mulai berpikir secara operasional,
(3). Mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda,
(4). Membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat, dan
(5) Memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat.[16]
  1. Prinsip-Prinsip Pengembangan Model Pembelajaran Tematik Terpadu
Jika diklasifikasikan, setidaknya ada empat kelompok prinsip-prinsip pengembangan Pembelajaran Tematik:[17]
1. Prinsip Penggalian Tema
  • Tema hendaknya tidak terlalau luas, namun dengan mudah digunakan untuk memadukan banyak mata pelajaran.
  • Tema harus bermakna, maksudnya adalah tema yang dipilih untuk dikaji harus memberikan bekal bagi siswa-siswi untuk belajar selanjutnya.
  • Tema harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan psikologis anak
  • Tema harus mewadahi sebagian besar minat anak
  • Tema hendaknya berkaitan dengan peristiwa-peristiwa otentik yang terjadi di dalam rentang waktu belajar
  • Tema hendaknya sesuai dengan kurikulum yang berlaku serta harapan masyarakat (asas relevansi)
  • Tema hendaknya sesuai dengan ketersediaan dengan sumber belajar.
2. Prinsip Pengelolaan Pembelajaran
  • Guru tidak menjadi single actor yang mendominasi pembicaraan dalam proses belajar-mengajar.
  • Pemberian tanggungjawab individu dan kelompok harus jelas dalam setiap tugas yang menuntut adanya kerjasama kelompok. Dan
  • Guru harus mengakomodasi terhadap ide-ide yang terkadang sama sekali tidak terpikirkan dalam perencanaan.
3.Prinsip Evaluasi
  • Memberikan kesempatan kepada siswa-siswi untuk; mengevaluasi diri sendiri (self evaluation) di samping bentuk evalauasi lain;
  • Guru perlu mengajak para siswa untuk mengevaluasi perolehan belajar yang telah dicapai berdasarkan keriteria keberhasilan pencapaian tujuan.
4.Prinsip Reaksi
  • Guru harus bereaksi terhadap aksi siswa-siswi dalam semua peristiwa serta tidak mengarahkan aspek yang sempit melainkan ke suatu kesatuan yang utuh dan bermakna. Pembelajaran tematik memungkinkan hal ini dan guru hendaknya menemukan kiat-kiat untuk memunculkan ke permukaan hal-hal yang dicapai melalui dampak pengiring tersebut.
F. Dasar Pertimbangan Pemilihan Pembelajaran Tematik
Terdapat beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam pemilihan model pembelajaran tematik, diantaranya :
  1. Tema hendaknya tidak terlalu luas, namun dengan mudah dapat digunakan untuk memadukan mata pelajaran.
  2. Tema harus bermakna, maksudnya tema yang dipilih intuk dikaji harus memberikan bekal bagi siswa untuk belajar selanjutnya.
  3. Tema harus disesuaikan dengan perkembangan siswa.
  4. Tema yang dikembangkan harus mampu menunjukan sebagian minat siswa.
  5. Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan peristiwa-peristiwa yang terjadi didalam rentang waktu belajar.
  6. Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan kurikulum yang berlaku serta harapan masyarakat.
  7. Tema yang dipilih hendaknya juga mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar.[18]
  1. Jenis Strategi dan Metode Yang Relevan di Gunakan dalam Model Pembelajaran Tematik
Model pembelajaran tematik merupakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa dan memberikan peluang untuk menggunakan berbagai strategi dan metode pembelajaran agar siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara utuh sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan mampu mengembangkan berbagai potensi dan keterampilan dalam diri siswa termasuk keterampilan untuk berpikir kritis. Model pembelajaran yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran tematik yang dimodifikasi dengan strategi dan metode yang ditujukan untuk menumbuhkan keterampilan berpikir kritis bagi siswa Sekolah Dasar.
Model pembelajaran bukanlah satu-satunya cara dalam penyampaian tujuan pembelajaran, metode pelajaran juga memegang peranan yang amat penting, dalam rangka mengaktikan siswa dalam proses pembelajaran maka salah satu metode yang sesuai adalah metode kerja kelompok. Kerja kelompok adalah suatu cara penyajian pelajaran dengan cara siswa mengerjakan sesuatu (tugas) dalam situasi kelompok dibawah bimbingan guru.
Selaras dengan  karateristik pembelajaran tematik, maka dalam pembelajaran yang dilakukan perlu dipersiapkan bervariasi kegiatan dengan menggunakan multimetode, misalnya metode eksperimen, metode bermain perran, metode diskusi, metode demonstrasi maupun metode dialog.[19]
  1. Prosedur Penerapan Model Pembelajaran Tematik dalam Pembelajaran PAI[20]
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran  Tematik
Satuan pendidikan      :  SD Pranggong II
Kelas / semester          :  IV (empat) / 1 (satu)
Tema / Sub Tema        :  Selalu Berhemat Energi / Gaya dan Gerak
Alokasi waktu             :  6 x 35 menit
A. Kompetensi inti
  1. Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya
  2. Menunjukkan  perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, tetangga, dan guru
  3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu secara kritis tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, sekolah, dan tempat bermain
  4. Menyajikan pengetahuan faktual  dalam bahasa yang jelas, sistematis dan logis dalam karya yang estetis dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia
B. Kompetensi Dasar dan Indikator
Bahasa Indonesia
1.1. Meresapi makna anugerah Tuhan Yang Maha Esa berupa bahasa Indonesia yang diakui sebagai bahasa persatuan yang kokoh dan sarana belajar untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
2.4. Memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan sumber daya alam melalui pemanfaatan bahasa Indonesia
3.4. Menggali informasi dari teks cerita petualangan tentang lingkungan dan sumber daya alam dengan bantuan guru dan teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku: Menggali informasi tentang unsur-unsur cerita dari teks cerita
4.4. Menyajikan teks cerita petualangan tentang lingkungan dan sumber daya alam secara mandiri dalam teks bahasa Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku dengan rasa percaya diri: Menceritakan pengalaman dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dan memperhatikan unsur-unsur ceritanya.
IPA
2.1. Memiliki kepedulian terhadap gaya, gerak, energi panas, bunyi, cahaya, dan energi alternatif melalui pemanfaatan bahasa Indonesia
3.3. Memahami hubungan antara gaya, gerak, dan energi melalui pengamatan, serta mendeskripsikan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari: Mengidentifikasi tentang gaya gravitasi dalam aktivitas sehari-hari
4.3. Menyajikan laporan hasil percobaan gaya dan gerak menggunakan tabel dan grafik dengan: Mengisi  tabel hasil percobaan gaya gravitasi
IPS
2.3. Memiliki perilaku santun dan jujur tentang jenis-jenis usaha dan kegiatan ekonomi melalui pemanfaatan bahasa Indonesia
3.5. Memahami manusia dalam dinamika interaksi dengan lingkungan alam,sosial, budaya, dan ekonomi: Mengidentifikasi sikap yang harus dimiliki ketika berinteraksi dengan orang lain
4.5. Menceritakan manusia dalam dinamika interaksi dengan lingkungan alam, sosial, budaya, dan ekonomi : Menjelaskan cara berinteraksi dengan orang lain di sekolah
SBdP     
1.2. Mengakui dan mensyukuri anugerah Tuhan yang Maha Esa atas keberadaan lingkungan dan sumber daya alam, alat teknologi modern dan tradisional, perkembangan teknologi, energi, serta permasalahan sosial
3.5. Mengetahui berbagai alur cara dan pengolahan media karya kreatif : Mengamati alur cara membuat parasut
4.14. Membuat karya kreatif yang diperlukan untuk melengkapi proses pembelajaran dengan memanfaatkan bahan di lingkungan: Membuat parasut untuk menunjukkan pengaruh gaya gravitasi dalam kehidupan sehari-hari
C. TUJUAN
–  Setelah melakukan percobaan, siswa mampu menyimpulkan tentang gaya gravitasi dengan benar.
– Dengan mengamati langkah-langkah pengerjaan, siswa dapat membuat parasut sesuai dengan runtutan yang benar.
– Setelah bermain parasut, siswa dapat menceritakan kembali kegiatan bermain mereka dengan memperhatikan unsur-unsur cerita dalam sebuah karangan.
– Dengan membuat refleksi sikap, siswa dapat menuliskan cara berinteraksi yang baik dengan orang lain.
D. MATERI
IPA
  • Pengaruh Gaya Gravitasi dalam kehidupan sehari-hari
SENI, BUDAYA DAN PRAKARYA
  • Membuat parasut
BAHASA INDONESIA
  • Unsur-unsur Cerita
  • Menceritakan pengalaman
IPS
  • Interaksi dengan orang lain
E.  PENDEKATAN & METODE
  • Pendekatan : Scientific
  • Model pembelajaran: Cooperatif Learning tipe STAD
  • Metode: 1. Eksperimen; 2. Diskusi; 3. Tanya jawab; 4. Penugasan
  • Karakter yang dikembangkan: Rasa ingin tahu, peduli, percaya diri, santun, disiplin, sopan
F. KEGIATAN  PEMBELAJARAN
  1. Pendahuluan 
1.  Mengajak semua siswa berdo’a menurut agama dan keyakinan masing-masing ;
2.  Melakukan komunikasi  tentang kehadiran siswa;
3. Bertanya jawab dengan siswa mengenai kegiatan pembelajaran sebelumnya dan menghubungkan dengan kegiatan yang akan dilakukan;
4. Menginformasikan tema yang akan dibelajarkan yaitu tentang “Selalu berhemat energi” dan sub tema yaitu “Gaya dan Gerak”;
5. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai setelah proses pembelajaran berlangsung 15 menit.
  1. Inti
1.  Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok heterogen;
2. Siswa mengamati teks yang ada di buku tentang gaya gravitasi dalam kehidupan sehari-hari dengan rasa percaya diri;
3. Siswa melakukan percobaan untuk mengetahui  gaya gravitasi bersama dengan teman sekelompoknya;
4. Siswa diberikan kesempatan untuk bereksplorasi dengan benda-benda di kelas;
5. Siswa berdiskusi untuk mengambil kesimpulan dari tabel yang dibuatnya, yang belum mengerti diberikan penjelasan oleh temannya;
6. Siswa menyimpulkan percobaan yang telah dilakukan 180 menit;
7. Siswa mengamati cara kerja membuat parasut ;
8. Siswa  membuat parasut untuk membuktikan adanya gaya gravitasi;
9.Siswa berdiskusi tentang hubungan permainan parasut dengan gaya gravitasi;
10. Siswa yang sudah mengerti dengan rasa peduli memberikan penjelasan kepada siswa yang belum mengerti sampai semua anggota dalam kelompok mengerti;
11. Siswa menceritakan pengalamannya dengan rasa percaya diri bermain parasut dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dan memperhatikan unsur-unsur ceritanya;
12. Siswa juga menjelaskan tentang sikap yang harus ditunjukan saat bermain parasut dan manfaat yang diperoleh dari mempraktikkan sikap itu.
  1. Penutup
1. Guru memberikan evaluasi berbentuk kuis (untuk mengetahui hasil ketercapaian materi);
2. Bersama-sama siswa membuat kesimpulan hasil belajar;
3. Mengajak semua siswa berdo’a menurut agama dan keyakinan masing-masing (untuk menutup kegiatan pembelajaran) 15 menit
G. Sumber dan  Media
1. Buku Guru Tematik  kelas IV ; Indonesia. 2013, Selalu Berhemat Energi, Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta
2.  Buku Siswa Tematik  kelas IV ; Indonesia. 2013, Selalu Berhemat Energi, Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta
3. Tutup stoples
4. Paku
5. Spidol
6. Gunting
7. Kantong plastik/kresek
8. Benang
9. Boneka kecil
10. Kertas HVS
11. Pulpen
12. Kelereng
H. PENILAIAN
1. Prosedur Penilaian :
– Penilaian Proses: Menggunakan format yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran sejak dari kegiatan awal sampai dengan kegiatan akhir
– Penilaian hasil
2. Instrumen  Penilaian :
– Penilaian Kinerja :
– Kriteria Penilaian B.Indonesia dan IPA  ;
– Kriteria: Bagus Sekali, Bagus, Cukup, Berlatih lagi.
Kemampuan siswa menggali informasi dari teks  Siswa mampu menemukan 3 unsur cerita (tema, latar, tokoh) dari teks yang dibacanya (5) Siswa menemukan 2 unsur cerita dari teks yang dibacanya; (4) Siswa menemukan 1 unsur cerita dari teks yang dibacanya; (3) Siswa belum mampu menemukan unsur-unsur cerita dalam teks yang dibacanya ; (1) Kemampuan mengidentifikasi gaya gravitasi dalam kehidupan sehari-hari Siswa mampu menjelaskan konsep gaya gravitasi dan hal yang mempengaruhi kecepatan jatuh benda serta memberi contoh beberapa gaya gravitasi; (5)Siswa mampu menjelaskan konsep gaya gravitasi dan  hal yang mempengaruhi kecepatan jatuh benda; (4)Siswa mampu menjelaskan konsep gaya gravitasi atau menjelaskan hal yang mempengaruhi kecepatan jatuh benda; (3)Siswa belum mampu menjelaskan konsep gaya gravitasi hal yang mempengaruhi kecepatan jatuh benda.
  • Nilai maksimal   : 10
  • Nilai Minimal      : 2
Mengetahui,
Kepala Sekolah SD…….                                            Guru Mata Pelajaran PKn
_______________________                                   _______________________
NIP.                                                                       NIP.
  1. Kesimpulan

            Pembelajaran tematik adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Melalui pengalaman langsung siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. Teori pembelajaran ini dimotori para tokoh Psikologi Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan bahwa pembelajaran haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak.
Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Oleh karena itu, guru perlu mengemas atau merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar siswa. Pengalaman belajar yang menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih efektif. Kaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipelajari akan membentuk skema, sehingga siswa akan memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Selain itu, dengan penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar akan sangat membantu siswa, karena sesuai dengan tahap perkembangannya siswa yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik).
Model keterhubungan, pada prinsipnya mengupayakan dengan sengaja adanya  keterhubungan konsep, keterampilan, topik, ide, kegiatan dalam satu bidang studi. Pada model ini, siswa tidak terlatih untuk melihat suatu fakta dari berbagai sudut pandang, karena pada model ini keterkaitan materi hanya terbatas pada satu bidang studi saja.
Model jaring laba laba (webbed) merupakan model dengan menggunakan pendekatan tematik. Karena karakterik dari model ini adalah menggunakan pendekatan tema maka dalam model ini, tema dijadikan sebagai pemersatu dari beberapa mata pelajaran. Setelah tema  ditemukan. Baru dikembangkan sub-sub temanya dengan memperhatikan kaitanya dengan mata pebelajaran yang dipadukan.
Sedangkan model keterpaduan merupakan model yang menggunakan pendekatan antar bidang studi. Diupayakan penggabungan bidang studi dengan cara menetapkan prioritas kurikuler dan menemukan keterampilan, konsep dan sikap yang tumpang tindih di dalam beberapa bidang studi. Model ini sulit di laksanakan sepenuhnya mengingat sulitnya menemukan materi dari setiap bidang studi yang benar–benar tumpang tindih dalam satu semester, dan sangat membutuhkan keterampilan guru yang cukup tinggi dalam perencanaan dan pelaksanaanya.

Daftar Pustaka
Dahar,Ratna. Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga, 1989.
Darmawan,  Hendro, dkk. Kamus Ilmiah Populer Lengkap dengan EYD dan Pembentukan Istilah serta Akronim Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Bintang Cemerlang, 2011.
Kunandar, Guru Profesional: Implementasi KTSP dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: Rajawali Pers, 2007.
Munawaroh, Isniatun. Pembelajaran Tematik Dan Aplikasinya Di Sekolah Dasar, makalah disampaikan dalam forum ilmiah guru SD, diakses dalam, http://staff.uny.ac.id/. diakses tanggal 15 Februari 2014.
Prastowo, Andi. Pengembangan Bahan Ajar Tematik Panduan Lengkap Aplikatif. Yogyakarta: DIVA Press, 2013.
Rusman, Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajawali Pers, 2011.
Rohman, Ahmad Fawzan Model Pembelajaran Tematik, dalam http://fauzan-zifa.blogspot.com, diakses tanggal 14 Februari 2014.
Sukayati, Pembelajaran Tematik di SD Merupakan Terapan dari Pembelajaran Terpadu, Makalah disampaikan dalam Diklat Instruktur?pengembang Matematika SD Jenjang Lanjut tanggal 6-19 Agustus 2004, di PPPG Matematika, 2004.
Trianto, Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik Bagi anak Usia Dini TK/RA dan Anak Usia Awal SD/MI. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013.
Tim Penyusun Pusat Bahasa Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008.
Uukurniawati, Konsep Dasar Pembelajaran Tematik, dalam http://uukurniawatiwordpress.com, diakses tanggal 14 Februari 2014.
Wahidin, Teori Pembelajaran, dalam, http://wahidin.staff.stainsalatiga.ac.id, diakses tanggal 14 Februari 2014.
[1] Tim Penyusun Pusat Bahasa Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008), h.1429.
[2] Hendro Darmawan dkk, Kamus Ilmiah Populer Lengkap dengan EYD dan Pembentukan Istilah serta Akronim Bahasa Indonesia, (Yogyakarta: Bintang Cemerlang, 2011), h. 710.
[3] Tim Penyusun, Kamus Besar… h. 997.
[4] Trianto, Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik Bagi anak Usia Dini TK/RA dan Anak Usia Awal SD/MI, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013), h. v.
[5] Andi Prastowo, Pengembangan Bahan Ajar Tematik Panduan Lengkap Aplikatif, (Yogyakarta: DIVA Press, 2013), h. 123.
[6] Rusman, Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), h. 254-255.
[7] Kunandar, Guru Profesional: Implementasi KTSP dan Sukses dalam Sertifikasi Guru, (Jakarta: Rajawali Pers, 2007), h. 335-336.
[8] Sukayati, Pembelajaran Tematik di SD Merupakan Terapan dari Pembelajaran Terpadu, Makalah disampaikan dalam Diklat Instruktur?pengembang Matematika SD Jenjang Lanjut tanggal 6-19 Agustus 2004, di PPPG Matematika, 2004.
[9] Ahmad Fawzan Rohman, Model Pembelajaran Tematik, dalam http://fauzan-zifa.blogspot.com, diakses tanggal 14 Februari 2014.
[10] Trianto, Desain…, h. 148-149.
[11]Ahmad Fawzan Rohman, Model Pembelajaran Tematik, dalam http://fauzan-zifa.blogspot.com, diakses tanggal 14 Februari 2014.
[12]Uukurniawati, Konsep Dasar Pembelajaran Tematik, dalam http://uukurniawatiwordpress.com, diakses tanggal 14 Februari 2014. Penemu teori Gestalt adalahMax Wertheimer seorang psikolog Jerman. Kata Gestalt berasal bahasa Jerman yang berarti konfigurasi atau organisasi. Gestalt merupakan keseluruhan yang penuh arti. Manusia tidak dapat menghayati stimulus-stimulus secara terpisah, tetapi stimulus itu secara bersama-sama serempak ke dalam konfigurasi yang penuh arti. Keseluruhan itu lebih dari jumlah bagian-bagiannya.Lihat: Wahidin, Teori Pembelajaran,dalam, http://wahidin.staff.stainsalatiga.ac.id, diakses tanggal 14 Februari 2014.
[13] Untuk model-model pembelajaran tematik terpadau ini, di adaptasi darihttp://rhayukarmla.blogspot.com/2012/12/model-model-pembelajaran-terpadu.html, diakses tanggal 14 Februari 2014.
[14] Isniatun Munawaroh, Pembelajaran Tematik Dan Aplikasinya Di Sekolah Dasar, makalah disampaikan dalam forum ilmiah guru SD, diakses dalam, http://staff.uny.ac.id/. Diakses tanggal 15 Februari 2014.
[15]Ratna Dahar, Teori-teori Belajar, (Jakarta: Erlangga, 1989), h. 152.
[16] Ratna Dahar, Teori.., h. 153.
[17] Trianto, Desain…, h. 154-155
[18] Ahmad Fawzan Rohman, Model Pembelajaran Tematik, dalam http://fauzan-zifa.blogspot.com, diakses tanggal 14 Februari 2014.
[19] Andi Prastowo, Pengembangan Bahan…, h. 244.